Hampir semua orang pernah sakit kepala, dan hampir semua orang punya cara sendiri untuk mengatasinya. Ada yang tidur, ada yang minum kopi, ada yang langsung ke warung membeli obat pereda nyeri. Cara-cara itu memang sering berhasil. Masalahnya, karena terlalu biasa, sakit kepala yang sebenarnya perlu diperiksa kadang ikut dianggap biasa selama berbulan-bulan.
Secara umum sakit kepala dibagi dua. Sakit kepala primer, seperti migrain dan sakit kepala tegang otot, muncul tanpa ada penyakit lain di balik keluhannya. Jumlahnya jauh lebih banyak. Sakit kepala sekunder timbul karena ada penyebab lain, misalnya infeksi, perdarahan, gangguan pembuluh darah, atau massa di dalam kepala. Jumlahnya sedikit, tetapi inilah kelompok yang tidak boleh terlewat.
Ada tanda-tanda yang sebaiknya tidak ditunggu sampai besok. Nyeri yang datang mendadak dan sangat hebat, seperti dihantam dari dalam, perlu penanganan segera di IGD. Hal yang sama berlaku bila sakit kepala disertai wajah mencong, bicara pelo, lemah di satu sisi tubuh, pandangan ganda, kejang, atau kesadaran menurun. Demam tinggi dengan leher kaku juga masuk daftar ini.
Tanda yang lebih pelan justru lebih sering terlewat. Sakit kepala yang makin sering dan makin berat dalam beberapa minggu, yang paling terasa saat bangun pagi, atau yang memburuk ketika batuk, mengejan, dan membungkuk, patut dievaluasi. Begitu pula sakit kepala baru yang muncul di atas usia 50 tahun, atau perubahan pola nyeri pada orang yang sudah lama punya migrain. Mual dan muntah tanpa sebab pencernaan yang jelas menambah alasan untuk periksa.
Dalam konsultasi, dokter biasanya mulai dari cerita Anda. Kapan mulainya, di sisi mana, bagaimana rasanya, apa yang memicu dan meredakan, obat apa yang sudah diminum. Setelah itu dilakukan pemeriksaan saraf sederhana untuk menilai kekuatan otot, refleks, penglihatan, dan keseimbangan. CT scan atau MRI kepala diminta kalau ada alasan klinis. Tidak setiap pasien sakit kepala otomatis dipindai, dan itu wajar.
Satu kebiasaan yang sering luput: terlalu sering minum obat pereda nyeri. Bila dipakai lebih dari sekitar sepuluh sampai lima belas hari dalam sebulan, obat itu sendiri bisa memicu sakit kepala yang kembali lagi (medication overuse headache). Pasien lalu mengira penyakitnya makin parah, padahal yang perlu diputus adalah siklus pemakaian obatnya, dan itu paling aman dilakukan bersama dokter.
Catatan harian membantu lebih banyak daripada yang dikira. Tulis tanggal, lama nyeri, skala nyeri 0 sampai 10, apa yang terjadi sebelumnya, dan obat yang diminum. Dua sampai tiga minggu catatan sering memperlihatkan pola yang tidak kelihatan dari ingatan saja.
Sebagian besar sakit kepala memang tidak berbahaya, tetapi tanda-tanda di atas cukup menjadi alasan untuk berkonsultasi. Artikel ini berisi informasi edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter.